.

Wednesday, June 1, 2016

E-Book For PC Novel Kimya Sang Putri (Jalaluddin) Rumi

Kimya Sang Putri Rumi





Barangsiapa yang hatinya terbakar api cinta, mesti sadar akan satu sisi lainnya. Kepedihan, rasa sakit yang begitu mendalam dan keterpisahan adalah sisi lain dari cinta yang memabukkan. Ia yang tangguh menanggungnya, dengan rasa girang dan tanpa ratapan, ialah yang berhasil membuktikan apa yang menyala dalam dadanya : rasa cinta yang agung, tulus dan penuh pengabdian.

Seorang sufi Andalusia, Ibnu Arabi—yang juga hidup sejaman dengan Rumi—menggubah puisi, “aku mengikuti agama Cinta, ke mana pun unta-unta Cinta itu berbelok, di sanalah Cinta menjadi agama dan kepercayaanku”. Mengkuti jalan Cinta memang tidaklah mudah. Terkadang berbelok di sebuah jalan yang seolah salah dalam pandangan manusia. Tapi, tentu tidak dalam pandangan penuh kasih Tuhan. Bukankah Dia sendiri yang menarik manusia-manusia terpilih untuk mengikuti jalan-Nya, sekaligus menaunginya.

Jalan Cinta, sebagaimana menjadi tema utama novel ini, digambarkan selalu punya dua sisi. Menyatu utuh lantas terpisahkan, bahagia dan memendam lara, suka cita sekaligus menahan luka. Mengapa demikian? Karena transformasi batin, demi pengenalan akan Dia yang Maha Indah, hanya terjadi pada hati yang terbolak-balik menerima tempaan-Nya, mengalami fase-fase dualitas sampai akhirnya bisa lepas darinya, dan tertinggal satu rasa saja : mensyukuri apa pun yang hadir di hadapannya. Karena seperti kata Rumi, dalam reruntuhan hatilah terdapat harta karun yang terkubur. Karena dalam hati yang berdarah-darahlah akan kau temukan Tuhan (hal 297).
***

No comments:

Post a Comment

Laynett Web