Jauh di atas puncak gunung lowo terdapat negri kecil. Di sana terdapat sang ratu yang mulai gelisah akan masa depan negrinya tersebut. Hingga pada suatu hari ia memanggil seopati di negri tersebut.
"Senopati, bagaimana menurutmu perkembangan daerah wetan sekarang?" Tanya sang Ratu kepada senopati.
" Ampun gusti, menurut hamba, perkembangan daerah wetan
sangatlah maju pesat, terutama pada dusun Bajalemes karena kepala dusun disana sangat bijaksana dan sangat memperhatikan rakyatnya gusti" jawab senopati." Ampun gusti, menurut hamba, perkembangan daerah wetan
"O begitu ya, pastinya pendapatan dari pembayaran upeti darisana banyak juga ya? " tegas sang Ratu.
" Ampun gusti beribu-ribu ampun hamba mohon maaf, upeti dari dusun Bajalemes sangat sedikit bahkan sampai beberapa kali tak membayar upeti". Jawab senopati dengan sangat ketakutan.
" hah!! Apa!!!" Kenapa bisa begitu, seharusnya mereka membayar upeti dan harusnya lebih besar". Dengan nada geram sang Ratu menyangkal jawaban senopati.
"Tak bisa dibiarkan, pembangkangan ini namanya!." Tambah sang Ratu mulai memahami situasi.
Sang Ratu bertidak cepat dengan menyuruh salah satu jendralnya untuk menyelidiki hal tersebut di Desa Bajalemes.
"Jendral.. selidiki apa yang terjadi di Desa Bajalemes, apa yang sebenarnya terjadi di sana. Kenapa mereka sudah tak mau lagi membayar upeti untuk kerajaan." Perintah sang ratu.
"Baik Ratu hamba akan segera berangkat kesana". Wuss... dengan cepat secepat kilat sang Jendral pergi melaksanakan tugasnya.
****
To be continued.
No comments:
Post a Comment